kriwil logo

aldiantoro nugroho. @kriwil. indonesia. part-time programmer. full-time dreamer. elm. linux. ubuntu. python. django. vim. indiana pacers. manchester united. random.

  1. KDE4!

    Akhirnya gue berkesempatan mencoba KDE 4. Dengan mengikuti petunjuk di situs kubuntu, gue berhasil menjalankan KDE 4.0 dengan baik (yeah rite, cuma apt-get gitu loh). Kalau mau gue rangkum dalam satu kalimat tengan KDE 4.0 ini, "KDE 4.0 membawa desktop linux ke tingkat selanjutnya". Awesome kalau kata orang bule.

    Buat gue, sebagai pengguna setia GNOME, menggunakan KDE adalah sebuah aib. Gue sudah menggunakan gnome sejak GNOME 1.4. Sebelum menggunakan GNOME, gue hanya menggunakan Window Maker sebagai window manager. Sepanjang penggunaan GNOME, gue beberapa kali mencoba menggunakan KDE sebagai DE, tapi gue gak pernah merasa nyaman dan selalu kembali ke GNOME.

    Tema bernama Oxygen yang dibuat sebagai standar visual KDE 4 benar-benar menyajikan visualisasi yang profesional, berbeda dengan GNOME 2.20 yang terlihat "fun" dalam penampilannya. Gue sangat peduli sama tampilan desktop yang gue gunakan. Bisa dilihat dari isi blog dan flickr gue yang berulang kali menampilkan tangkapan layar desktop yang gue gunakan. Dan Oxygen ini benar-benar membuat gue merasa perlu mencoba menggunakan KDE untuk beberapa waktu.

    Tentunya, penampilan yang indah bukan satu-satunya hal yang bagus dari KDE 4. Bisa dibaca sendiri di halaman pengumumannya, soalnya gue juga belum bisa cerita banyak, karena baru dalam hitungan jam gue menggunakan KDE ini.

    Tapi dari sejumlah poin plus itu, versi awal dari KDE 4.0 ini masih menyimpan banyak kekurangan. Salah satunya yang gue alami, tampilan menu yang tidak mempunyai icon. Lagi-lagi, karena penampilan itu penting, ini jadi masalah bua gue. Gue sendiri belum mencari tau kenapa. Hal lain yang juga mengganggu adalah penurunan kecepatan yang menurut gue drastis ketika gue mengaktifkan desktop effects. KDE 4 tanpa desktop effect memang terasa lebih cepat dibanding GNOME 2.20 tanpa desktop effect, tapi GNOME 2.20 tetap lebih cepat jika desktop effect itu diaktifkan. Entah kenapa.

    Hal lain yang juga mengganggu adalah gue belum bisa menemukan di mana gue bisa mengatur konfigurasi jaringan. Untung sekarang lagi menggunakan DHCP, jadi langsung bisa mendapatkan IP. Tapi kalau pas harus menggunakan IP statis, haruskah kembali ke CLI?

    Bagaimanapun juga, gue akan tetap mencoba menggunakan KDE 4 ini untuk beberapa saat walau masih banyak kekurangannya. Walau gue sangat mempertimbangkan untuk pindah ke KDE, gue berharap GNOME bisa segera berkembang lebih jauh untuk menandingi kemajuan KDE ini. Kalau gue bandingkan sekarang, KDE 4.0 berada jauh di depan GNOME 2.20 sebagai desktop environment.

    Satu lagi, gak lengkap kalau ngga pakai screenshot :D

    PS: Thanks buat mamato atas racun KDE 4-nya ;)

    kde4 desktop default kde4 no icons kde4 konqueror kde4 dolphin kde4 system settings kde4 calendar kde4 amarok

    — 20080114 – aldi —
If you have any comment, tweet me @kriwil.