kriwil logo

aldiantoro nugroho. @kriwil. indonesia. part-time programmer. full-time dreamer. elm. linux. ubuntu. python. django. vim. indiana pacers. manchester united. random.

  1. Wotcher!

    Sebelumnya, gue mau berterima kasih buat Warner Bros atas kesempatan lebih awalnya. Dan sedikit peringatan buat yang belum nonton, mungkin akan ada spolier spoiler. Walau pun, kalau dari segi cerita, gue ngga yakin layak disebut spolier spoiler, karena toh udah pada tau semua bukan? Kecuali, ya, emang belum pernah baca ya ... itu lain cerita. Tapi gue akan coba untuk tidak menuliskan yang termasuk spolier spoiler.

    Jadi, Harry Potter and the Order of the Phoenix. Oh well. Mungkin sama seperti seri sebelumnya, sebaiknya kita jangan memposisikan film ini sebagai bentuk visualisasi dari novelnya. Karena, jelas, sangat hampir tidak mungkin mengangkat novel setebal hampir 800 halaman ke sebuah film dengan durasi 2 jam lebih sedikit.

    Dari segi visualisasi, walau di awal agak-agak aneh, tapi secara keseluruhan bagus kok. Salah satu yang gue suka itu visualisasi dari patronus saat Laskar Dumbledore berlatih. Tapi kok rasanya pesta perpisahan Fred and George kurang greget gimana gitu yah. Dan aksi-aksi di Departemen Misteri banyak kurangnya.

    Kalau dari karakternya, Kingsley Shacklebolt sesuai bayangan gue. Hore! Pas banget sama apa yang gue imajinasikan. Tonks juga sesuai. Tapi ada yang kurang, kok dialog Tonks cuma sedikit sih? Huh. Padahal salah satu karakter yang paling gue tunggu. Luna Lovegood cute, tapi sayang masih kurang loony. Dolores Umbridge, ah, kurang jelek. Yang sangat kurang adalah emosi Harry yang harusnya meledak-ledak. Oke, dia emang marah-marah di film itu, tapi tetap masih kurang.

    Secara keseluruhan, filmnya sama kayak bukunya, ngga fokus. Lompat sana lompat sini. Tapi bedanya, kalau di bukunya, walau ngga fokus, tapi tetap dijelaskan mendetail. Kalau filmnya, wah, gitu deh. Gue berani jamin, kalau belum baca bukunya, dan termasuk orang yang memperhatikan detail, pasti banyak pertanyaan yang muncul. Nonton filmnya kayak nonton film porno, yang selalu kita percepat kalau tidak ada "adegan" yang "perlu ditonton". Yang ditonton hanya aksinya saja. Kita mungkin bisa puas sama aksinya, tapi kita ngga tau cerita. Kita ngga tau gimana si A bisa sama C, padahal adegan sebelumnya A itu sama B "mainnya". Ya kayak gitu nonton film Harry Potter ini. Fokusnya cuma diaksi, aksi dan aksi. Kita hampir tidak mendapatkan penjelasan mengapa ini dan itu terjadi.

    Tapi filmnya tetap layak ditonton kok, baik yang udah baca bukunya ataupun yang belum. Buat yang udah baca, mungkin bisa mencocokkan imajinasi di otak dengan visualisasi di filmnya. Buat yang belum baca, ya abis nonton baca ya, soalnya ngga jelas kan kalau cuma nonton aja?
    Kalau gue sih nonton buat ngeliat Luna sama Tonks *blush* ...

    Ah, btw, wotcher itu slang yang sering diucapkan Tonks.

    Wotcher!

    — 20070711 – aldi —
If you have any comment, tweet me @kriwil.